Tampilkan postingan dengan label cincin kawin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cincin kawin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Mei 2011

Membawa perdamaian bagi muka bumi ini.

Yiay!!! Our rings are finally done.
Belum 100% kelar sih. Karena acara kawinan masih lima bulan lagi maka diputuskan tidak ditulis namanya dulu. Sebab???? Ya siapa tahu saya melangsing *kibas-kibas rambut*


Dan....kepikiranlah saya " I don't want that ordinary rings box".  Apa ya...apa ya...muncul lah ide untuk menggunakan piring plus mangkok yang saya beli di Daiso. Lalu ke halaman belakang ambil melati. Dan terpikirkan juga detail burung bangau. Cincinnya dijagain 2 burung bangau. Tema urban elegant with touch of heritage. Heritagenya dari negara Jepang -saya dilamar ketika di Osaka- *blushing* Origami crane burung bangau ini tidak bisa dilepaskan dari kisah seorang gadis Jepang bernama Sadako Sasaki yang menderita penyakit leukemia karena kanker dalam darah akibat serangan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945.

Selama sakit, ia berusaha dapat melipat seribu burung bangau (crane) dengan berharap kesembuhan dari penyakit dan perdamaian dunia dapat terwujud. Pada saat meninggal, Sadako telah melipat 644 burung bangau, dan teman-teman sekolahnya membantu melipat sisanya.

Kemudian teman-temannya pun membentuk klub dan mencari dana untuk membuat sebuah monumen perdamaian dunia. Kini monumen itu telah berdiri di taman Hiroshima sejak tahun 1958 dan orang-orang dari seluruh penjuru dunia selalu mengirimkan/ menaruh origami burung bangau (crane) pada monumen itu sebagai simbol perdamaian pada setiap tanggal 6 Agustus yang telah dijadikan sebagai hari perdamaian.

Semoga pernikahan PRIMA DAN DIAN membawa perdamaian bagi muka bumi ini.



Anyway...kalo nggak bisa bikin bangau. Nih, ada turorialnya! Semua ada di youtube. Hehehe...selamat berkreasi

Kamis, 19 Mei 2011

With this ring, i marry you…

Ini prototype cincin kawin kami. Lanjutan dari tulisan ini. Yup, tetap memakai bahan palladium dan belinya juga di Indoseni.

Kenapa berupa prototype? Ternyata mencari cincin kawin polos jaman sekarang itu susah. Contoh di etalase selalu pake batu. Ya, dengan berbekal daya imajinasi tinggi, kami menterjemahkannya. Polos saja tanpa mata dan hanya aksen garis dengan tone warna berbeda. Putih kilat dan dove. Bentuk dalam bundar, sedangkan bentuk luarnya kotak. Kotak? Yes, simple meaning. Bulat melambangan two of us dan kotak adalah 'rambu-rambu' yang harus dipatuhi sebagai suami istri. Bebas terbatas lah. Nah, jika prototype ini ga ada koreksi maka dicetaklah yang asli. Hanya 2 minggu pengerjaan sih.




Anyway....sebenarnya kami berdua memutuskan setelah menikah, cincin kawin ini akan kita tali benang dan disimpan dalam kotak. Nggak dipake sehari-hari. Si mbak Indoseni juga nanya : "Lho, setelah nikah nggak pake cincin lalu bisa ngelaba dong?!" Uhm...Ini di luar rasio berpikir saya. Ya, pake cincin segede monas kalo niatnya ngelaba ya kejadian lah ngelaba. Insyallah kalo niatnya baik dijaga sama Allah, walau tanpa cincin sekalipun.

Oiya, ada yang ganggu pikiran saya. Saya belum pernah menemukan literatur bahwa cincin kawin itu masuk ke dalam syarat pernikahan Islam, tapi mengapa pegawai KUA kadang menanyakannya? Apa karena cincin kawin sudah menjadi kebiasaan bahkan cenderung dianggap sebagai hal yang mendasar di dalam suatu acara tunangan atau pernikahan? Malah saya tahunya, penggunaan cincin di dalam acara perkawainan itu merupakan tradisi jaman Yunani dan Romawi kuno, yang dianggap sebagai simbol cinta kasih antara laki-laki dan perempuan. - Lupa, pernah baca dimana -. 

Yang jelas cincin hanyalah cincin. Cincin nggak punya kekuatan untuk menjaga keutuhan rumah tangga ^^

Kamis, 21 April 2011

Mencari cincin kawin

Ini long weekend yah?...Pantes jalanan macet tadi.

Malam tadi pulang kantor jalan sama Lala ke pameran wedding. Karena salah satu vendor cincin kawin yang kami taksir sedang pameran di sana (Kami refer Prima dan Dian). Karena tertarik dengan bahan yang digunakan adalah palladium. Kami sudah memilih modelnya tapi hati kurang pas sebelum survey secara mantap. Sesuai petunjuk si penjaga toko, kami tinggal print desain yang dimau, ditunjukkan ke mereka, kita bayar, dan jadilah. Untuk melakukan transaksi harus ada si Dian. Kalo nggak jari tangan siapa mau diukur. Harga palladium dijual sama dengan harga emas. 10 gram kurang lebih 3,8jt rupiah tadi.