![]() |
| Pic From Here |
Semenjak menikah, saya dan suami tinggal di Bitung (Sejam dari Manado). Penerbangan pertama MDC - SUB ketika usia kehamilan jalan 5 minggu. Pada saat itu memang nggak tahu kalo lagi hamil. Penerbangan ke-2 ketika balik ke Bitung (usia 6 minggu). Penerbangan ke-2 berani saya lakukan karena saya sudah berkonsultasi dengan dokter, dan dokter menyatakan bahwa penerbangan naik pesawat itu aman dan kondisi kehamilan yang sehat.
Nah, ternyata.... kondisi hamil dan cuman berdua dengan suami di tanah rantau itu susahnya minta ampun. Saya jadi gampang ngos-ngos-an. Padahal kondisi di Bitung kalo mau ke Supermarket harus mendaki. Pernah sekali ke pasar, rasanya mau pingsan kekurangan oksigen. Jadi, suami yang musti bekerja 2x lipat. Belum lagi, saya ndak mampu memasak. Masuk dapur mualnya minta ampun. Nggak bisa masak, alternatifnya beli makanan?....Nggak semudah itu. Di Bitung ndak ada jual rawon, soto ayam, jual cap cay pun rasanya ndak jelas --". Lalu yang enak apa? Yang enak sagala macam ikan dengan rasa super duper pedas. Jadi selera kehamilan saya yang lebih mau masakan rumahan jawa, nggak ketemu sama selera Manado. Suami pun nggak bisa masak. Walhasil, saya makan kurang bervariasi gizinya --" Melihat kondisi ini, kami berinisiatif memutuskan saya tinggal di Jawa saja. Karena ga tega naik pesawat sendiri, dikirimlah mertua menjemput.
Mertua sempat tinggal seminggu. Makannya? Alhamdulillah udah lancar. Alhamdulillah makannya ga rewel, cuman kurang jodoh sama masakan Manado. Makan lancar, mari kita pulang ke Jawa. Sudah selesai masalah? Oh, tentu belum. Tiba-tiba mertua mengeluarkan aksi JANGAN PULANG DULU, PESAWAT BERBAHAYA UNTUK HAMIL MUDA. Jeng...jeng...jeng...suami pun mulai ikutan kahwatir. Rada repot. Ga boleh pulang ke Jawa, tapi mertua juga ga mau tinggal ampe bulan ke-4. Nah lo, kalo ada pintu kemana saja boleh lah. Untung suami masih bijaksana, pergilah kami ke dokter kandungan untuk periksa. Alhamdulillah....dinyatakan sehat dan diijinkan terbang. Lalu mertua? TETEP KEKEUH MENGHIPNOTIS JANGAN TERBANG :)))
Mertua yang awalnya sangat rasional dan mau menerima ijin dokter terbang jadi parno karena lingkungan pertemanannya. Tekanan udara dalam kabin pesawat tidak baik untuk ibu dan janin, goncangan di udara, landing, maupun take off, dan
lain-lainnya. Informasi tersebut kebanyakan memakai embel-embel “katanya…” dan tidak disertai penjelasan ilmiah dari narasumber yang kompeten (dokter & praktisi obgyn lainnya).
Yang jadi concern dokter saya hanya satu : karena saat itu kehamilan saya
masih dalam trimester pertama, dikuatirkan gejala morning sickness. Bisa dibayangkan, 2,5 jam di udara mual-mual ya pasti ngeganggu. Mengenai kekuatiran tentang tekanan udara dalam kabin pesawat, dokter
menjelaskan bahwa penerbangan komersil sekarang sudah memiliki
pesawat dengan kabin pressurized, (tekanan udara & kadar oksigen
dalam kabin dibuat sama dengan tekanan udara di permukaan laut),
sehingga tidak perlu kuatir akan kekurangan oksigen selama didalam
kabin. Namun rendahnya kelembaban udara dalam kabin pesawat dapat
menyebabkan dehidrasi; untuk mencegahnya, banyak-banyak minum air putih.
- Sebelum memesan tiket pesawat, konsultasikan terlebih dahulu rencana bepergian tersebut ke dokter & mintalah pendapat/pertimbangannya. Dan kondisi ibu dan janin diperiksa maksimal 2 hari sebelum keberangkatan.
- Mintalah kepada dokter surat keterangan mensyaratkan boleh terbang dalam kondisi hamil; lalu siapkan beberapa copy suratnya (jaga-jaga kalau diminta oleh pihak bandara/maskapai).
- Usahakan untuk memilih tempat duduk disamping lorong, untuk mempermudah mobilitas ke toilet.
- Bawa benda-benda “pengusir kebosanan” seperti buku bacaan atau mp3 player (saya tidur, karena memang jam bobo siang :p)
- Kenakan sepatu yang nyaman. Converse masih sangat nyaman untuk bumil :p
- Bawa sesedikit mungkin barang bawaan yang harus ditenteng tangan.
- Kenakan pakaian yang nyaman & agak longgar (terutama di sekitar garis perut), dan yang mudah dibuka saat mo pipis. Siapkan juga syal pashmina atau jaket untuk menghalau dingin udara kabin.
- Bawa selalu kertas tissue, cairan antiseptic pembersih tangan didalam tas tangan.
Alhamdulillah, penerbangan ke-3 ( 22 / 4 / 2012 ) lancar. Ndak ada mual, ndak kram, dan makan tetep lahap ^_^ Penerbangan juga mulus tanpa gangguan berarti. I've told to my babies "Nak, kita harus buktikan mana mitos dan mana fakta. Dengan ilmu dan meyakini Kuasa Allah, insyallah kita bisa" ;p

Tidak ada komentar:
Posting Komentar