Sometimes you need to walk alone just to show that you can.
Sebagai ibu gemeli jauh-jauh hari sudah di-'warning' dokter bisa mempertahankan kehamilan sampai week ke-36 itu sudah top markotob. Ibu gemeli jarang bisa genap minggu hingga minggu ke-40, aka kelahiran prematur. Which is kehamilan week 36 jatuh pada akhir bulan Oktober.
Ada sharing beban hati ini :))
Sejak masuk trimester ke-3, ibu dan ibu mertua saya memasukkan sugesti bahwa saat melahirkan nanti saya harus siap mental untuk mandiri dan tegar. Maksudnya?!... Sendirian di ruang bersalin, entah itu secara normal maupun cesar. Bukan karena rules rumah sakit yang tidak memperbolehkan didampingi (tentu selama nggak ada komplikasi serius, boleh ditemani), tapi JIKA kondisi terpaksa.
Kejam?!
Ho-oh. Sounds cruel deh emak-emak ini. Drop-in mood ajah :p Tapi setelah saya pikir-pikir. Betul juga. Saya harus SIAP, MANDIRI, DAN TEGAR dengan ataupun tanpa pendamping. Kenapa begitu? Walau kelahiran normal itu bisa diprediksi, namun prediksi itu kan mengandung unsur plus minus. Bisa maju, atau mundur dari prediksi. Lha? Kemana suami siaganya? Suami saya tinggal di Bitung, Sulawesi Utara. Dan saya melahirkan di Surabaya. Terus kemana semua keluarga? Hehehe....ada. Namun ya tadi, JIKA kondisi terpaksa.
Sekedar info, ternyata baik ibu maupun ibu mertua pengalaman melahirkan hampir tanpa penunggu *mereka memang super hero*. Kondisi suami yang bekerja di beda tempat, plus keluarga berjauhan :)) Yeah, how's cool they are?
Saya?! Shock (pertama kalinya) but in the end.....I SHOULD PREPARE MY SELF :p
I won't be alone. I have God who will always stay with me.
Ho-oh. I CAN DO THIS.
Bukan berarti keluarga saya raja tega :)) NO!!! Mereka menyiapkan mental saya.
Kalaupun sampai kejadian....saya tidak akan marah sama keluarga saya ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar