Hahaha....postingan nggak berurutan. Biarin :p
Sebenarnya saya itu nggak 'mempergunakan' upacara midodareni. Kenapa? Kata Pak Naryo, papa saya, nggak usahlah acara ampe malem sedangkan besok akad nikah. Sebagai manusia sehat perlu tidur 8 jam :)) Alasan lain karena Dian bukan jawa asli. Eh, pada tahu nggak apa itu upacara midodareni? Upacara midodareni itu pihak mempelai pria datang ke rumah mempelai wanita untuk menyerahkan seserahan dan sebagai balasan ayah ibu mempelai wanita memberikan kancing gelung ke pengantin laki-laki. Upacara midodareni biasanya setelah siraman. Which is ya isya gitu. For my papa it's too late and we need proper sleep for the big day :))
Lalu itu kebaya buat apa? Jujur. Buat kepentingan dokumentasi :)) Yups. Kelar siraman masak iya nggak dipakein baju. LOL. Lalu semuanya pada cantik kan ya?....dan foto-fotolah kami. Kapan lagi bo' bisa jadi model *dirajam orang sekampung*
Lalu itu kebaya buat apa? Jujur. Buat kepentingan dokumentasi :)) Yups. Kelar siraman masak iya nggak dipakein baju. LOL. Lalu semuanya pada cantik kan ya?....dan foto-fotolah kami. Kapan lagi bo' bisa jadi model *dirajam orang sekampung*
Btw, kemarin aku dapet pertanyaan. Kenapa sih kebaya akad-nya kutu baru which is model jadoel? Almarhum mbah putri saya adalah perempuan yang hingga akhir hayatnya menggunakan kebaya dalam kehidupan sehari-hari. Kebaya yang dipakenya ya model kutu baru ini. Satu kesan yang terekam dalam ingatan saya, kebaya jenis ini bersahaja. Menyiratkan keanggunan perempuan jawa. Mungkin kalo pernah baca buku "Eksplorasi kreativitas dua dasawarsa Anne Avantie" akan tahu sejarah kutubaru. Model kutubaru lahir sejak abad ke-15, kebaya jenis ini merupkan simbol universal. Di Jawa, kutubaru disukai wanita dari berbagai kalangan. Modelnya tidak menciptakan 'jarak'. Modelnya bisa diaplikasikan dalam beragam kain. Dari katun sampai sutera dan chiffon.
Model yang simpel tapi bisa memancarkan aura sensual dari seorang perempuan :p IMO sih ini :))

Tidak ada komentar:
Posting Komentar