Apa kabar para calon mempelai? Yuk mareee. Hari kedua bersama teman-teman QM Financial. Diajarin tentang instrument investasi. Baiklah, saya mengaku. Saya memiliki gelar S1 SARJANA EKONOMI tapi pengetahuan saya tentang obligasi, asuransi, dan reksadana nol besar. Lumayan kalo untuk pengetahuan tentang logam mulia -karena pengalaman investasi baru di sini sih ya :p-.
Setelah dicek sama mas Teguh QM, Saya dan calon suami sehat kondisi keuangannya, tapi kurang efesien dalam berinvestasi. Untungnya selama ini tujuan investasi kita masih jangka pendek - menengah, jadi masih ke kejar.
Begitu buka sheet selanjutnya. DICORET dari daftar tujuan berdua kami adalah : RUMAH.
*Uhuk!* Padahal kan ya, STANDARISASI sosial masyarakat, menikah tuh punya rumah. Eh, ini mas Teguh bilang nggak perlu :p Kenapa begitu? Begini ceritanya. Si Dian itu sekarang bertugas di Bitung city. Tugas dia itu paling nggak rotasi 4 tahun sekali dan seharusnya wilayah rotasinya Indonesia raya dari sabang sampe merauke. In case, dulu dia di Manado lalu Jakarta lalu Bitung. Alasan mas Teguh kalo 4 tahun sekali pindah, belum kelar cicilan udah musti pindah, nggak sayang tuh? Kan bisa sih dikontrakin? Tapi setelah diitung-itung sama mas Teguh ga untung. Lagian, di sana ga ada historicalnya. Let say, ntar kami pindah Yogya ga mungkin kan, ya, iseng aja datang ke sana buat lihat itu rumah. Ho-oh males deh :p Lalu nggak perlu rumah gitu kami? Jawabnya PERLU. Tapi beli pas usia menjelang pensiun ^^ dan belinya CASH! Kalo semua sesuai 'proposal' kami, maka timelinenya, saat pensiun 55 tahun, anak pertama berusia 27 -dan dia udah di silicon valey- :p
Gitu-gitu deh. Skema saya penuh oret-oret.
Sedikit lega bagi kami berdua. Insyallah impian hidup aman dan nyaman ternyata bukan sekedar impian *puk-puk bantal*. Apakah kami berhasil? Ooo...belum! Tunggu 7 bulan lagi. Eh, tunggu kami pensiun ding! Kalo pensiun masih.....ya gitu deh. Jadi beban anak, maka gagal.
Sekarang, praktek yuk makkk!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar