| Keren! |
| Diperbesar! |
Sebagai calon pasangan yang ingin memastikan hidup nyaman dan aman ke depan *semua pasangan deh, ya, mimpinya begini* salah satu hal yang bikin 'shock' -terutama saya- bahwa kenyataan setelah menikah adalah saya harus meninggalkan semua fasilitas yang diberikan oleh orang tua saya *Jleb*.
Ok, semua yang ada di daftar ini dibiayai oleh orang tua. Kecuali mas kawin, cincin kawin, seserahan, Jahit kebaya dan jas (buat akad), biaya admin KUA, Pre-marital check up, Vaksinasi HPV dan vaksin TT ditanggung sama kami berdua. Baik bener kan orangtua kami. Alhamdulillah Tapi, setelah jederrrr!!! hari H, saya musti pindah ke Bitung city. Dimana Bitung city itu? 1 jam perjalanan dari Manado. Don't ask me more, I've never been there.
Pindah secara raga dan jiwa. Barulah di sini sadar. Kami akan single income dan memiliki tanggung jawab baru sebagai suami-istri dan yang terpenting, kami harus jadi orangtua yang baik, membuat bahagia anak-anaknya dan tidak menyusahkan anak-anak kami kelak. Berkaca dari orangtua kami yang mereka membesarkan kami tapi mereka nggak minta 'disupport' secara financial. Plus proteksi kesehatan mereka bagus banget. Ayah saya keluar uang untuk pasang ring 3 sekaligus, seharga xenia. Mereka membayar (asuransi dan uang cash) tanpa mengganggu cash flow yang lain atau jual-jual barang. Both of them memasuki masa pensiun. Ayah wirausaha -masih aktif sebagai hobi bukan butuh uang-. Begitu juga orang tuanya pasangan. Gimana bisa begitu? Orang tua kami bekerja, sukses, dan hidupnya ga neko-neko. -Salahkah di jaman mereka nggak ada iPad, camera, sepeda, and blame lifestyle- *cari kambing hitam**Jleb kedua*
Menilik dari kepanikan saya, Dian, calon suami saya tercinta itu, mendaftarkan saya di QM Financial. Cinta dia pada saya begitu besar, nggak mau melihat saya panik histeris. *byorrr*
Lucky us. Jadi kelas kecil berisi sepuluh orang saja. Dan saya termuda dan masih single. Horeee!!! *Ga penting ditulis*. Kami beruntung karena kami 'sadar' sebelum kami memulai berlayar. 8 orang, mereka mengaku terlena dengan fasilitas orangtua. Ga punya duit lahiran, ada ortu yang bumperin. Begitu anak masuk SD, lha...kagak ada duit. Dan 1 lagi ibu, single mom karena suaminya meninggal dan nggak punya asuransi jiwa :(
Tadi sih baru dapet ilmu pengenalan, menghitung time value money *iye, dulu kuliah udah dapet*, dan financial check up. Sehat. Ya iyalah. Masih numpang makan tidur di rumah ortu. Cuman yang rada sumringah, kata mbak Fitri QM : Di start kalian udah tahu 'tujuan lo apa', Insyallah kalian kuat bangun pondasi. Alhamdulillah. Amin. Sekarang kami lagi bikin ilustrasi single income dengan pengeluaran 2. Dengan tujuan dana darurat, dana melahirkan -jangka pendek- dan DP rumah (5 tahun lagi) *Yuk mareee hajarrr*
Nggak bisa dipungkiri, keuangan bisa bikin perkawinan galau kalau nggak diurus dengan benar.
Have nice weekend ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar