Senin, 15 Agustus 2011

Vendor pengiriman undangan

Pic From Here

Ada aja yang terlewat dari check list. Apa itu? Menentukan vendor pengirim undangan. Duarrrr....!!! Urgent banget kan?

Begitu urusan cetak mencetak undangan kelar -tinggal nunggu proses mencetaknya saja- baru keinget, siapa yang harus mengantarkan undangannya?!...Ehehehe....Btw, aku search kok jarang ya, yang mereview cara pengiriman undangan?! Atau semua dikirim sendiri? *sembah sujud kalo iya*

Ada 2 kandidat logistik. Pertama Indo pasific (vendor kantor) dan Pandu Siwi (vendor kantornya Darling). Indo Pasific mematok harga Rp 4.000,-/undangan untuk wilayah Surabaya dan Pandu Siwi mematok Rp 5.000,-/undangan untuk wilayah Surabaya. Errr... beda tipis sama harga undangannya?! *garuk-garuk*

Let's see!!! Masih mau survey dulu dari kedua vendor pengiriman undangan ini.

Btw, beneran ini nggak ada yang pernah bikin review tentang vendor pengiriman undangan?!!!!

Selasa, 09 Agustus 2011

Pungkasan HPV

Tuntas sudah vaksin HPV saya. Tinggal TT. Dan karena untuk 'surat sakti' menikah, maka TT seharusnya dilakukan di PUSKESMAS. Seperti tulisan saya sebelumnya, TT 'diwajibkan' pemerintah untuk mencegah kematian karena Tetanus, yang sempat menjadi monster di Indonesia.

Just see...ibu saya CS-an sama dokter di PUSKESMAS Kecamatan tempat saya tinggal :p 

Alhamdulillah terpenuhi sudah salah satu kewajiban menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. Insyallah langkah yang baik untuk generasi penerus yang lebih baik.

Rabu, 27 Juli 2011

Tentang TT

Ada lagi 'surat sakti' yang diperlukan untuk melengkapi berkas di KUA. Yakni surat BEBAS TETANUS TOKSOID. Kata mama saya sih, program ini sudah ada sejak tahun 80-an. Program jangka panjang untuk memberantas tetanus. Karena kematian disebabkan tetanus pernah jadi momok besar di Indonesia.

Saya dalam proses melengkapi diri dengan vaksin HPV. Dokter obgyn saya memberi saran paling nggak vaksin HPV minimal 6 bulan sebelum terjadi pembuahan -kurang satu kali lagi-. Dan saya baru tahu *dodol.com* dari majalah bahwa vaksin TT  juga memerlukan waktu 6 bulan untuk membentuk antibodi. Dan saya menikah 3 bulan 3 minggu lagi :)) Ntah apakah memungkinkan HPV kali ke-3 digabung dengan vaksin TT.

Kalo diingat-ingat jaman SD dulu juga pernah divaksin TT? Dan emang iya, dari catatan mama saya, saya pernah divaksin TT kelas 1,2,3 SD. Tetapi jika jarak terakhir sudah lebih dari 10 tahun maka perlu vaksin booster -Ya itu perlunya surat bebas TT -. Kalo googling sih, ntar begitu tahu hamil juga wajib TT lagi. - Infonya masih simpang siur.

Kenapa ya banyak sekali vaksin TT-nya?! Kalo kata kawan Jepang saya bilang "Because your country is developing countries. Midwifery unsterilized tools. Danger. Can cause death in infants" :)) *Nggak boleh kesel. Kita ngomong Indonesia kan bukan cuman Jakarta atau Surabaya. Tapi juga pelosok*

Nanti kalo sudah dapet info saya share lagi.

Oia, kenapa vaksin TT cuman untuk perempuan? Karena laki-laki nggak hamil :p

Minggu, 24 Juli 2011

Kebaya midodareni


Hahaha....postingan nggak berurutan. Biarin :p

Sebenarnya saya itu nggak 'mempergunakan' upacara midodareni. Kenapa? Kata Pak Naryo, papa saya, nggak usahlah acara ampe malem sedangkan besok akad nikah. Sebagai manusia sehat perlu tidur 8 jam :)) Alasan lain karena Dian bukan jawa asli. Eh, pada tahu nggak apa itu upacara midodareni? Upacara midodareni itu pihak mempelai pria datang ke rumah mempelai wanita untuk menyerahkan seserahan dan sebagai balasan ayah ibu mempelai wanita memberikan kancing gelung ke pengantin laki-laki. Upacara midodareni biasanya setelah siraman. Which is ya isya gitu. For my papa it's too late and we need proper sleep for the big day :))

Lalu itu kebaya buat apa? Jujur. Buat kepentingan dokumentasi :)) Yups. Kelar siraman masak iya nggak dipakein baju. LOL. Lalu semuanya pada cantik kan ya?....dan foto-fotolah kami. Kapan lagi bo' bisa jadi model *dirajam orang sekampung*

Btw, kemarin aku dapet pertanyaan. Kenapa sih kebaya akad-nya kutu baru which is model jadoel? Almarhum mbah putri saya adalah perempuan yang hingga akhir hayatnya menggunakan kebaya dalam kehidupan sehari-hari. Kebaya yang dipakenya ya model kutu baru ini. Satu kesan yang terekam dalam ingatan saya, kebaya jenis ini bersahaja. Menyiratkan keanggunan perempuan jawa. Mungkin kalo pernah baca buku "Eksplorasi kreativitas dua dasawarsa Anne Avantie" akan tahu sejarah kutubaru. Model kutubaru lahir sejak abad ke-15, kebaya jenis ini merupkan simbol universal. Di Jawa, kutubaru disukai wanita dari berbagai kalangan. Modelnya tidak menciptakan 'jarak'. Modelnya bisa diaplikasikan dalam beragam kain. Dari katun sampai sutera dan chiffon.

Model yang simpel tapi bisa memancarkan aura sensual dari seorang perempuan :p IMO sih ini :))

Selasa, 12 Juli 2011

Kebaya Akad

Kembali meng-update list. Printilan kecil-kecil tapi banyak.

Setelah di bbm beruntun sama Hendhy untuk mulai bikin baju akad, akhirnya hari ini kesampaian sudah. Ehehehe...sabar ya, cynnn. Klien yang satu ini sok sibuk :p Karena udah keseringan bbm-an, Hendhy  sudah tahu apa yang kumau. Urban - elegant - with touch of heritage.


Simple. Elegant. Urban. Dan tetap ada heritagenya karena pake model kutubaru-nya. Warna broken white lah ya. Ih, ih...deg-degan deh ah. Bismillah. Kutitipkan imajinasiku padamu Hendhy *beneur*

Btw, Hendhy ini masih berondong. Dia baru lulus kuliah. Lulusan UNESA tata busana. Tapi kerenlah cuttingannya. Kenal pertama di fashion show....apa ya....acara APMI pokoknya. Eh, APMI itu Asosiasi Perancang Muda Indonesia. Lalu main-main di counternya, eh...belilah batik yang aku pake ke Jepun dulu itu.

Seneng ya, kalo ada talent muda dedikasi sama passionnya.

Eh, eh...ini alamatnya kalo mau jahit di sana. Gampang, depannya KTP corner di Royal Plaza

Broken white by Hendhy Setiawan
Royal Plaza lt. G C2 - 40
Surabaya

Ah, akyu deg-degan ga sabar pengen lihat jadinya gimana ^^ Bulan depan si Dian gilirannya bikin jas.

Jumat, 08 Juli 2011

Berkunjung ke KUA

Heiho...apa kabar semua? Jadwal saya padat merayap, empet-empetan nih.



Anyway...kemarin lusa ke KUA. Ya, apalagi kalo nggak untuk memenuhi to do list yang mulai berdebu. Secara bapak dan ibu saya itu menikah di catatan sipil jadi mereka nggak punya pengalaman berurusan dengan KUA. Sebagai warga negara yang nggak mau nyusahin orang, sebelum ke KUA browsing dulu. Nyari-nyari referensi pengalaman orang berurusan sama KUA.
  1. Foto Copy KTP dan Kartu Keluarga (KK) untuk calon Penganten  masing-masing 1 (satu) lembar.
  2. Surat pernyataan belum pernah menikah (masih gadis/jejaka) di atas segel/materai bernilai Rp.6000,- (enam ribu rupiah) diketahui RT, RW dan Lurah setempat.
  3. Surat Pengantar RT – RW setempat.
  4. Surat keterangan untuk nikah dari Kelurahan setempat yaitu Model N1, N2, N4, baik calon Suami maupun calon Istri.
  5. Pas photo ukuran 2×3 masing-masing 4 (empat) lembar, bagi anggota ABRI/TNI/POLRI harus berpakaian dinas.
  6. Bagi yang berstatus duda/janda harus melampirkan Surat Talak/Cerai dari Pengadilan Agama, kalau Duda/Janda mati harus ada surat kematian dan surat Model N6 dari Lurah setempat.
  7. Harus ada izin/Dispensasi dari Pengadilan Agama bagi :
    • Laki-laki yang umurnya kurang dari 19 tahun;
    • Perempuan yang umurnya kurang dari 16 tahun;
    • Laki-laki yang mau berpoligami.
  8. Ijin Orang Tua (Model N5) bagi calon penganten yang umurnya kurang dari 21 Tahun baik laki-laki/perempuan.
  9. Bagi calon penganten yang akan menikah bukan di wilayahnya (ke Kecamatan lain) harus ada surat Rekomendasi Nikah dari KUA setempat.
  10. Bagi anggota ABRI/TNI/POLRI dan Sipil ABRI/TNI/POLRI harus ada surat Izin Kawin dari Pejabat Atasan/Komandan.
  11. Kedua calon penganten mendaftarkan diri ke KUA tempat akan dilangsungkannya akad nikah sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) hari kerja dari waktu melangsungkan Pernikahan. Apabila kurang dari 10 (sepuluh) hari kerja, harus melampirkan surat Dispensasi Nikah dari Camat setempat.
Source here.

Fakta yang baru saya tahu, ternyata KUA itu mengurusi satu kecamatan. Data tahun 2009 kecamatan Simokerto -tempat saya tinggal- berpenduduk 102.251 jiwa. Jadi secara logika, menikah di bulan besar syarat ke 11 susah berlaku. Dan...benarlah adanya. Booking petugas KUA penuh sodara :))
Alhamdulillahnya, berbekal senyum manis dan tatapan mata mengintimidasi, saya ketemu sama kepala KUA-nya. Ngerumpi malahan. -semoga si bapak belum ada mutasi sampai saya selesai nikah-. Nih, versi KUA kecamatan Simokerto :

1. Surat pengar RT, RW, Kelurahan >>> Ya ini N1, N2, N4
2. Foto kopi KK, KTP, AKTE kelahiran, dan Ijasah terakhir selembar.
3. Pass foto 3x3 (4 lembar) >>> ukurannya beda cynnn. Berwarna atau tidak terserah. IMO, Fotonya yang dove. Kenapa dove? Biar ketika distempel nggak bleber.
4. Untuk pria ada surat rekomendasi dari KUA tempat tinggalnya.

Nah, formulir N3-nya kemana ya? Kok N1, N2, lanjut N4? Besok tak ngerumpi lagi sama pak KUA-nya. Kita lihat, apakah saya mampu mengurus sendiri? Hmm...positive thinking will grom positive way. Bangga euy urusan administrasi diurus sendiri ^^

Selasa, 05 Juli 2011

Undangan

Mentang-mentang vendornya temen sendiri, urusan undangan belum juga diurusin lagi :p *sungkem sama Suci*

Btw, ada beberapa tips yang harus diketahui calon pengantin sebelum pesen undangan di tempat jual undangan massal (maksudnya template undangan sejuta umat tinggal ganti nama, tanggal dan venue saja).

- Jangan mau bayar DP mahal sebelum dapat dummy. Untuk ikat harga CUKUP bayar Rp 100ribu atau 200ribu dulu aja. Abis ikat harga itu, si calon pengantin baru ngomongin masalah desain ke vendor undangan. Nah, minta juga si vendor ini bikin dummy undangannya. Biasanya dummy diprint di karton..yaa paling ga untuk tahu gimana bentuknya dulu aja *dummy ini dibuat setelah desainnya fix dan wajib minta dibikinin, jangan mau klo cuma diprint di HVS*. Nah, kalo dummynya udah di acc sama calon pengantinnya. Baru bayar DP 50%.

- Jangan mudah percaya dengan harga miring. Itu patut dipertanyakan. Misalnya di Toko A 5.000, toko B 4.500, toko C 3.000..Nah, mesti hati-hati tuh sama toko C. karena biasanya harga undangan gitu udah ada standarnya..ga mungkin main harga terlalu jauh. Biasanya kalo yang berani kasih murah banget, dia lagi butuh duit :p

- Vendor yang baik itu bakal selesaiin dulu kerjaannya. Jadi ga sedikit-sedikit minta tambahan DP. Bilangnya untuk inilah, itulah, padahal mungkin emang mau nipu aja. Untuk beberapa design, terutama yang ribet, mungkin mereka memang butuh waktu yang lebih lama. Tapi dikejar aja terus biar mereka tetap inget untuk ngerjain undangan kita.

- Minta no rumah atau kantor, kalau perlu alamat rumahnya. Jangan mau kalau cuma dikasih no hp aja. minta yang lengkap, jadi kan mereka ga berani kabur dan macem-macem. Walaupun mungkin ini sering dianggap sepele, tapi ini penting lho :)

Cetak mencetak sih cukup butuh waktu dua mingguan (standar template ya). Nah, ketika undangan udah full tercetak baru bayar sisanya. Oya, jangan lupa! Nulis nama penerima undangan itu di luar tanggung jawab vendor, lho ya. Jadi bisa kan memperkirakan waktu; undangan kelar cetak, bikin label nama penerima undangan dan mengirimnya. Jangan lupa juga kalo undangan untuk keluar kota atau luar negeri butuh waktu pengiriman.

Selamat ngurusin undangan. Oya, alamat percetakan temen saya :

CV. 46
Jl. Gubeng Kertajaya 2 / 46 Surabaya