Senin, 14 Februari 2011

Memilih untuk vaksin

Melindungi diri dengan vaksin HPV masuk ke dalam list persiapan pernikahan saya. Bagi saya, sejauh kita berpengetahuan maka sejauh pengetahuan itulah tanggung jawab kita kepada Sang pemberi pengetahuan a.k.a Tuhan Maha SegalaNya.

Well, level antibodi yang dihasilkan oleh infeksi alamiah HPV kemampuan proteksinya rendah, maka dibutuhkan vaksinasi untuk menghasilkan level antibodi yang cukup kuat. Saat ini di Indonesia tersedia 2 merk ; Gardasil punya Merck dan Cervarix punya GSK. Saya sendiri memilih Gardasil. Yang nyuntik dokter kandungan langganan saya dr. Pudjo Hartono SpoK. Vaksinnya di RS Husada utama. Kenapa di sana? Karena dr. Pudjo sudah tahu riwayat saya dan juga sejarah keluarga, plus deket rumah, daripada ngantri di prakteknya dr. Pudjo sampai ngantuk-ngantuk :p Oia, sebelum vaksin saya sempet survey. Banyak rumah sakit / dokter kandungan bilang jika pasien belum aktif secara seksual -Terserah udah nikah atau belum- tidak usah pap smear sebelumnya. Tapi ada satu klinik yang nggak usah saya sebut namanya mewajibkan semua pasien -aktif secara seksual ataupun belum- untuk pap smear.

Memang vaksin HPV lebih efektif jika diberikan pada perempuan yang belum aktif secara seksual. Dalam kasus saya, dr. Pudjo menghitung jarak saya vaksin hingga menikah nanti. Paling nggak 6 bulan sebelum terjadi pembuahan. Hehehe...mempersiapkan generasi penerus sebaik mungkin :-)  Suntiknya 3 kali. Bulan ke nol, bulan 1 dan bulan ke-6 setelah suntik pertama.

Harga vaksin ini tergolong agak mahal. Tapi, masak biaya pernikahan mencapai delapan atau sembilan digit sedangkan harga vaksin yang hanya 6 digit aja sayang ngeluarinnya. Padahal ini termasuk investasi jangka panjang kita sebagai perempuan.

Suntiknya di lengan

Eh, iya...happy valentine ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar