Sabtu, 26 Februari 2011

Touch Of Heritage

Postingan kali ini saya akan menjelaskan bagian Touch Of Heritage dari tema besar saya Urban - elegant with touch of heritage. Saya 100% jawa, sedangkan Dian memiliki darah Sumatera - melayu, Banjar, madura, jawa. Saya dari dulu ingin sekali mengusung pernikahan akbar ala keraton Yogya, paling nggak menciptakan suasana tersebut. Alhamdulillah mama Rita dan Dian tidak keberatan jika pernikahan dilangsungkan dalam ada jawa. Cuman nanti rencananya uwak-uwak Dian tetap pakai kostum teluk belanga sebagai tanda kalo mereka dari seberang pulau :p

Pic From Here
Tahapan pernikahan adat jawa itu terbagi dalam 5 tahap besar, yang masing-masing tahap memiliki beragam makna. 

Babak I : Pembicaraan
  • Congkong : Keluarga laki-laki mencari informasi apakah si perempuan ini berstatus single atau sudah dipinang orang.
  • Nontoni : Setelah status jelas dan orangtua si perempuan memberi lampu hijau, maka si laki-laki wajib membawa keluarganya untuk berkenalan - Pernikahan Jawa itu pernikahan keluarga-. Syukur-syukur dengan berkenalan kedua keluarga bisa membuat sebuat klan bisnis menjadi semakin besar :p
Babak II : Kesaksian
  • Lamaran : Keluarga pihak laki-laki melamar pada hari yang ditetapkan. Mereka datang dengan membawa makanan dari bahan beras ketan. Kenapa ketan? Sebagai simbol supaya lengket terus.
  • Jawaban : Pihak perempuan datang ke pihak laki-laki untuk memberikan jawaban, diterima atau tidak. In our case, karena mama Rita di sini sendirian maka jawaban akan diberikan saat lebaran nanti. Jadi, si Dian ini statusnya belum jelas jadinya, diterima apa nggak :))) Biasanya di tahap ini membawa tanggal pernikahan.
  • Srah-srahan : Penyerahan seperangkat perlengkapan untuk melancarkan pelaksanaan acara. Idealnya memang diberikan sebelum hari H, biar dipakai calon mempelai perempuan di hari H. Lagi-lagi karena keterbatasan waktu maka seserahan kami diberikan pas ijab kabul.
  • Asok Tukon : Penyerahan sejumlah dana dari keluarga laki-laki ke keluarga perempuan. FYI, dalam budaya Jawa penyelenggara pernikahan adalah pihak perempuan tapi pendanaan dibagi berdua.
Babak III : Tahap SIAGA
  • Sedhahan : Mencakup pembuatan hingga pembagian undangan.
  • Kumbakarnan : Pertemuan pembentukan panitia hajatan. Membicarakan program kerja masing-masing panitia lah.
  • Jenggolan : Melaporkan ke KUA / Catatan sipil bahwa akan dilaksanakan sebuah pernikahan
*. Ilmu EO ada di budaya Jawa ^^

Babak IV : Rangkaian Upacara
  • Pasang Tarub : Pemasangan janur kunir pada pintu gerbang. Lalu pemasangan tuwuhan (itu lho pohon pisang yang masih ada buahnya, lalu ada untaian padi, kelapa gading, daun beringin, dan daun dadap srep). Lalu pemasangan bleketepe sebagai simbol keselamatan. Biasanya ada selamatan sebagai syukur dan doa.
  • Upacara Nyantri : Jaman dulu ada ini. Si calon pengantin laki-laki dititipkan ke kerabat keluarga calon mempelai perempuan. Hal ini dilakukan untuk menghidari runway groom. Kalau saya?! We do the best and let God do the rest ^^
  • Siraman : Membersihkan diri suci lahir batin. Jumlah orang yang ikut memandikan itu 7 orang yang disebut PITULUNGAN (Penolong) dan dipilih orang sepuh dan memiliki latar belakang perkawinan sehat. Diakhiri dengan memecah kendi yang artinya siap menikah. Biasanya setelah siraman ada dodol dawet dan bubak kawah. Dodol dawet, bapak ibu mempelai perempuan jualan dawet ke undangan. Kurang paham maksud di sini apaan. Kalo bubak kawah itu pikulan berisi alat rumah tangga yang diserbu undangan sebagai tanda anak pertama mereka melepas masa lajang. Saya rasa dua hal ini berkaitan dengan harapan ekonomi mempelai supaya gemah ripah loh jinawi. - Ini cuman saya. Karena Dian tidak 100% jawa maka dimaafkan. Boleh nggak :p -
  • Upacara ngerik : Membersihkan rambut halus di jidat calon mempelai perempuan. IMO, biar 'cahaya' semakin keluar.
  • Midodareni : Simbol, malam terakhir sebelum menyerahkan calon mempelai perempuan ke suaminya. Sebelum tugas tanggung jawab beralih. Tahapan ini tahapan berdoa, semoga esok lancar tak ada halangan. -Di jaman modern, tahapan ini menjadi tahapan foto-fotoan --"
Babak V : The day
  • Ijab kabul
  • Upacara temu
          - Tukar kembang mayang : Maknanya menyatukan cipta, rasa, karsa demi kebahagiaan dan 
             keselamatan.
          - Lempar sirih : Untuk mengusir godaan duniawi. Pengingat bahwa jika sudah bersuami/beristri 
             aset tubuh harus dijaga -Ya memang harusnya begitu, bukan?-
          - Ngidak endhog : Mempelai pria menginjak telur dan dibasuh air kendi sama perempuan. Bukan 
             berarti perempuan di bawah kekuasaan laki-laki. Tapi simbol seksual ternyata ^^
          - Masuk ke selendang : Bahwa mereka pasangan yang selalu berjalan beriringan dalam mengarungi 
             rumah tangga.
          - Timbangan : Duduk di pangkuan ayah sebagai simbol tidak ada istilah anak biologis maupun anak 
             mantu.
          - Kacar kucur : Beras kuning, kedelai hitam, beras putih, kembang telon, dan recehan LM 5gr,   
             sebagai simbol suami menafkahi istri.
          - Dahar Klimah : Suami istri saling menyuapi yang artinya berbagi suka duka bersama.
          - Sungkeman : Meminta doa restu ke orang tua ^^

Hmmm...panjang ya? But It gonna be fun. Eh, kalo semisal ada yang kelewat atau salah, boleh lho diberi masukan ^^

*Diambil dari beragam sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar