Minggu, 24 April 2011

Mahar

Dalam sebuah pernikahan, nampaknya mahar di Indonesia menjadi aksesoris pelengkap saja yang tidak banyak menyita pikiran orang. Pihak mempelai maupun orangtua biasanya lebih ‘heboh’ dalam membahas pesta pernikahan, prosesi, dan ritualnya daripada menyinggung soal mahar. Mungkin juga ini adalah bentuk aplikasi budaya ewuh pakewuh yang masih melekat dalam masyarakat kita.

Saya menilai mahar itu adalah nafkah awal suami ke istrinya sebelum nantinya memberi nafkah yang rutin setelah berkeluarga. Dalam Islam, permintaan dan pemberian MAHAR sangat berbeda dengan sifat materialis dan kepalsuan. Ini adalah ajaran Islam yang penuh hikmah, yang bertujuan untuk melindungi dan memuliakan wanita, serta memperkokoh keluarga. Sebagaimana kata-kata bijak berikut ini:


"Sebaik-baiknya laki-laki adalah yang memberikan mahar yang banyak, dan sebaik-baiknya wanita adalah yang tidak meminta mahar yang banyak".

Alhamdulillah, sebelum saya meminta, Dian sudah menyiapkan mahar sesuai favorit saya. 3 keping dinar. Kebetulan saya penyuka angka 3 dan kelipatannya. Mengapa dinar ? Mengapa bukan uang yang dihias dan memiliki nilai romantisme karena bisa melambangkan tanggal? Keunggulan dinar karena memiliki nilai nyata (tangible), senilai benda fisiknya (intrinsic) dan dan nilai yang melekat/bawaan pada benda itu (innate). Ketiga keunggulan nilai ini tdak dimiliki oleh investasi bentuk lain seperti saham, surat berharga dan uang kertas.

Kelebihan Dinar :
1. Memiliki sifat unit account ; mudah dijumlahkan dan dibagi. Kalau kita punya 100 Dinar – hari ini mau kita pakai 5 Dinar maka tinggal dilepas yang 5 Dinar dan di simpan yang 95 Dinar.

2. Sangat liquid untuk diperjual belikan karena kemudahan dibagi dan dijumlahkan di atas.
3. Memiliki nilai da’wah tinggi karena sosialisasi Dinar akan mendorong sosialisasi syariat Islam itu sendiri. Nishab Zakat misalnya ditentukan dengan Dinar atau Dirham - umat akan sulit menghitung zakat dengan benar apabila tidak mengetahui Dinar dan Dirham ini.
4. Nilai Jual kembali tinggi, mengikuti perkembangan harga emas internasional; hanya dengan dikurangkan biaya administrasi dan penjualan sekitar 4% dari harga pasar. Jadi kalau sepanjang tahun lalu Dinar mengalami kenaikan 31 %, maka setelah dipotong biaya 4 % tersebut hasil investasi kita masih sekitar 27%.
5. Mudah diperjual belikan sesama pengguna karena tidak ada kendala model dan ukuran.

Kelemahan Dinar :
1. Di Indonesia masih dianggap perhiasan, penjual terkena PPN 10% (Sesuai KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 83/KMK.03/2002 bisa diperhitungkan secara netto antara pajak keluaran dan pajak masukan toko emas maka yang harus dibayar ‘toko emas’ penjual Dinar adalah 2%).
2. Ongkos cetak masih relatif tinggi yaitu berkisar antara 3% - 5 % dari nilai barang tergantung dari jumlah pesanan.

Pic From Here
Ada cerita lucu di balik pembelian mahar. Dian menyiapkan mahar sejak setahun yang lalu. Pembeliannya di Gerai Dinar. Karena dekat rumah, maka saya yang beli. Begitu beli masuk aja ke dompet. Sialnya dompet saya baru beli dan ada 'kantong rahasianya', si dinar pun nyelip ke dalam kantong rahasianya. Ketika Dian menanyakan mana dinarnya dan si dinar nggak ada di dompet. Panik! Lemes! (Karena saya musti mengganti,kan) untung cinta kami tak rapuh hanya karena dinarnya kuhilangkan. Hehehe.... Baru setelah akan menikah dia cerita kalo itu dinar untuk mahar bukan sekedar investasi. 

*Info Dinar dari sini 

Kamis, 21 April 2011

Mencari cincin kawin

Ini long weekend yah?...Pantes jalanan macet tadi.

Malam tadi pulang kantor jalan sama Lala ke pameran wedding. Karena salah satu vendor cincin kawin yang kami taksir sedang pameran di sana (Kami refer Prima dan Dian). Karena tertarik dengan bahan yang digunakan adalah palladium. Kami sudah memilih modelnya tapi hati kurang pas sebelum survey secara mantap. Sesuai petunjuk si penjaga toko, kami tinggal print desain yang dimau, ditunjukkan ke mereka, kita bayar, dan jadilah. Untuk melakukan transaksi harus ada si Dian. Kalo nggak jari tangan siapa mau diukur. Harga palladium dijual sama dengan harga emas. 10 gram kurang lebih 3,8jt rupiah tadi.

Minggu, 17 April 2011

Day 2

Halowwww.....

Apa kabar para calon mempelai? Yuk mareee. Hari kedua bersama teman-teman QM Financial. Diajarin tentang instrument investasi. Baiklah, saya mengaku. Saya memiliki gelar S1 SARJANA EKONOMI tapi pengetahuan saya tentang obligasi, asuransi, dan reksadana nol besar. Lumayan kalo untuk pengetahuan tentang logam mulia -karena pengalaman investasi baru di sini sih ya :p-.

Setelah dicek sama mas Teguh QM, Saya dan calon suami sehat kondisi keuangannya, tapi kurang efesien dalam berinvestasi. Untungnya selama ini tujuan investasi kita masih jangka pendek - menengah, jadi masih ke kejar.

Begitu buka sheet selanjutnya. DICORET dari daftar tujuan berdua kami adalah : RUMAH.

*Uhuk!* Padahal kan ya, STANDARISASI sosial masyarakat, menikah tuh punya rumah. Eh, ini mas Teguh bilang nggak perlu :p Kenapa begitu? Begini ceritanya. Si Dian itu sekarang bertugas di Bitung city. Tugas dia itu paling nggak rotasi 4 tahun sekali dan seharusnya wilayah rotasinya Indonesia raya dari sabang sampe merauke. In case, dulu dia di Manado lalu Jakarta lalu Bitung. Alasan mas Teguh kalo 4 tahun sekali pindah, belum kelar cicilan udah musti pindah, nggak sayang tuh? Kan bisa sih dikontrakin? Tapi setelah diitung-itung sama mas Teguh ga untung. Lagian, di sana ga ada historicalnya. Let say, ntar kami pindah Yogya ga mungkin kan, ya, iseng aja datang ke sana buat lihat itu rumah. Ho-oh males deh :p Lalu nggak perlu rumah gitu kami? Jawabnya PERLU. Tapi beli pas usia menjelang pensiun ^^ dan belinya CASH! Kalo semua sesuai 'proposal' kami, maka timelinenya, saat pensiun 55 tahun, anak pertama berusia 27 -dan dia udah di silicon valey- :p

Gitu-gitu deh. Skema saya penuh oret-oret. 

Sedikit lega bagi kami berdua. Insyallah impian hidup aman dan nyaman ternyata bukan sekedar impian *puk-puk bantal*. Apakah kami berhasil? Ooo...belum! Tunggu 7 bulan lagi. Eh, tunggu kami pensiun ding! Kalo pensiun masih.....ya gitu deh. Jadi beban anak, maka gagal.
Sekarang, praktek yuk makkk!



Sabtu, 16 April 2011

Tidak Cukup Makan Cinta (dangdut banget)

Keren!
Diperbesar!
Sebagai calon pasangan yang ingin memastikan hidup nyaman dan aman ke depan *semua pasangan deh, ya, mimpinya begini* salah satu hal yang bikin 'shock' -terutama saya- bahwa kenyataan setelah menikah adalah saya harus meninggalkan semua fasilitas yang diberikan oleh orang tua saya *Jleb*.

Ok, semua yang ada di daftar ini dibiayai oleh orang tua. Kecuali mas kawin, cincin kawin, seserahan, Jahit kebaya dan jas (buat akad), biaya admin KUA, Pre-marital check up, Vaksinasi HPV dan vaksin TT ditanggung sama kami berdua. Baik bener kan orangtua kami. Alhamdulillah Tapi, setelah jederrrr!!! hari H, saya musti pindah ke Bitung city. Dimana Bitung city itu? 1 jam perjalanan dari Manado. Don't ask me more, I've never been there.

Pindah secara raga dan jiwa. Barulah di sini sadar. Kami akan single income dan memiliki tanggung jawab baru sebagai suami-istri dan yang terpenting, kami harus jadi orangtua yang baik, membuat bahagia anak-anaknya dan tidak menyusahkan anak-anak kami kelak. Berkaca dari orangtua kami yang mereka membesarkan kami tapi mereka nggak minta 'disupport' secara financial. Plus proteksi kesehatan mereka bagus banget. Ayah saya keluar uang untuk pasang ring 3 sekaligus, seharga xenia. Mereka membayar (asuransi dan uang cash) tanpa mengganggu cash flow yang lain atau jual-jual barang. Both of them memasuki masa pensiun. Ayah wirausaha -masih aktif sebagai hobi bukan butuh uang-. Begitu juga orang tuanya pasangan. Gimana bisa begitu? Orang tua kami bekerja, sukses, dan hidupnya ga neko-neko. -Salahkah di jaman mereka nggak ada iPad, camera, sepeda, and blame lifestyle- *cari kambing hitam**Jleb kedua*

Menilik dari kepanikan saya, Dian, calon suami saya tercinta itu, mendaftarkan saya di QM Financial. Cinta dia pada saya begitu besar, nggak mau melihat saya panik histeris. *byorrr*

Lucky us. Jadi kelas kecil berisi sepuluh orang saja. Dan saya termuda dan masih single. Horeee!!! *Ga penting ditulis*. Kami beruntung karena kami 'sadar' sebelum kami memulai berlayar. 8 orang, mereka mengaku terlena dengan fasilitas orangtua. Ga punya duit lahiran, ada ortu yang bumperin. Begitu anak masuk SD, lha...kagak ada duit. Dan 1 lagi ibu, single mom karena suaminya meninggal dan nggak punya asuransi jiwa :(

Tadi sih baru dapet ilmu pengenalan, menghitung time value money *iye, dulu kuliah udah dapet*, dan financial check up. Sehat. Ya iyalah. Masih numpang makan tidur di rumah ortu. Cuman yang rada sumringah, kata mbak Fitri QM : Di start kalian udah tahu 'tujuan lo apa', Insyallah kalian kuat bangun pondasi. Alhamdulillah. Amin. Sekarang kami lagi bikin ilustrasi single income dengan pengeluaran 2. Dengan tujuan dana darurat, dana melahirkan -jangka pendek- dan DP rumah (5 tahun lagi) *Yuk mareee hajarrr*

Nggak bisa dipungkiri, keuangan bisa bikin perkawinan galau kalau nggak diurus dengan benar.

Have nice weekend ^^

Kamis, 07 April 2011

Common Mistakes

Ok, saya menulis kali ini bukan sebagai bride - to be tapi lebih sebagai orang yang sering membuat event. A mental note on our head what was good and what was bad kadang membuat kita sedikit 'tertekan'. Wajar! Semua orang mengidealkan kesempurnaan, bukan?
  • Don’t think that your work is done once you’ve chosen your vendors and have signed the contracts with them.
Ini baru setengah matang. Pastikan semua keinginan kamu tertulis di atas kertas. Hitam putihnya harus jelas, bahkan hanya untuk urusan sepele, macam mau nambah hiasan gajah africa di sudut ruangan (Ya, nggak ada itu gajah, resepsi tetap berjalan, kan?). Konfirmasikan setiap hal paling tidak dua kali. Merasa nggak nyaman nelpon-nelpon mulu? Ya itu memang kerjaan vendor, ditelponin melulu :p Kalo mereka cuek, jangan sungkan-sungkan menegur -Nah, ini enaknya kalo hitam putihnya jelas-

  • Untuk yang bikin slide pre-wed, review paling nggak 2 minggu sebelum hari H

Ya biar ada waktu untuk revisi. Walo sudah ngobrol sampe berbusa, kadang pekerjaan kreatif itu 'penerjemahannya' beraneka rupa. Apa yang dipikiran saya belum tentu sama dipikiran anda.
  • Overspending can be avoided if you have a budget and stick to it. 
Vendor yang ngompor-ngomporin buat keluar dari budjet yang tersedia patut dikirim ke Timbuktu. Berpesta diluar kemampuan jelas no, no, no....meski itu luar biasa amazing bikin orang membicarakannya selama bumi berputar.

  • Don’t get too caught up with planning the wedding that you miss what’s most important to you! 
Menikah adalah memulai kehidupan bersama, bukan hanya masalah R-E-S-E-P-S-I. Some tension between the two of you is inevitable, but don’t ever let things get out of control. I know how sensitive you can get when the days are approaching, but make sure both of you have fully discussed your future plans and resolve any issue that might come up again during marriage. (I would definitely recommend taking pre-marital counseling to seek a professional advice, kalo kesulitan 'ngobrol' bisa dibantu dengan ini. Isinya tentang topik dasar hal-hal yang dihadapi ketika menikah, macam : keuangan, anak, sex life dll).
  • Don’t expect everything will flow just as you’ve imagined
Jika pasangan anda bukan cenayang, jangan harap dia mengerti maksud anda tanpa anda memberitahukannya. Termasuk ke vendor.
  • Don’t try to DO too much! 
Resepsi tentu adalah hari menjadi raja dan ratu sehari. Harinya anda. Tapi, ingat juga siapa tamu anda. Make it short and sweet, fun, and warm. Jangan tamunya bapak/ibu sepuh lalu hiburannya DJ Andezzz.
  • Just because you get a good deal doesn’t mean you will receive a quality work

Boleh murah asal jangan murahan, ya. Promo-promo dari vendor perlu di cek and re-check.

Terakhir....nikmati saja prosesnya. Menjadi menyebalkan pada saat akan menikah it's so not cool *note to my self*

Selasa, 29 Maret 2011

Draft undangan

Nampak belakang
Nampak Depan

Draft undangan akhirnya jadi juga :p

Ini undangan desainnya saya bikin sendiri...hehehe...lalu ditunjukkan ke Dian dan mama,papa, mereka semua setuju. Kebetulan juga susunan kalimatnya mirip dengan undangan pernikahan mama dan papa saya. Yang  bikin lama, ga jadi-jadi desainnya, karena awal saya pengen yang nampak belakang itu motif kawung. Tapi ternyata susah mencari softcopy kawung warna ungu. Sempet juga menggambar dan diwarnai...kok hasilnya...ya gitu deh, ga pas di hati. Akhirnya ya beginilah hasilnya. Mewakili Urban - Elegant with touch of heritage (ukirannya mewakili touch of heritage) - karena saya yang desain suka-suka saya bikin filosofi - :p

Pengerjaan undangan di sahabat kami sendiri, neng Suci. Karena dia tinggal mencetak saja maka harganya diskon 50% :p *dilempar sandal* 

Memang dibuat hanya selembar saja. Dimensi ukuran saya buat 18 cm x 18 cm dengan ketebalan 1 mm. Ukiran nampak belakang itu embos. Belum ketemu lagi sama si Suci, bisa nggak  ya embos pada ketebalan 1 mm? Tapi yang jelas, bukan hardcover.

Desain amplopnya belum kepikiran. Masih cari inspirasi nih ^^

Minggu, 27 Maret 2011

Mempersiapkan pernikahan sedangkan pasangan nun jauh di sana

Yup, saya dan Dian adalah pasangan yang menjalani Long Distance Relationship. Termasuk mempersiapkan hari H juga dengan jarak terpisah. Rumit kah?! Tidak juga. Tidakkah merasa repot sendiri sementara pasangan di pulau seberang asyik tidur lelap?! Nggak. Saya di sini dibantuin keluarga dan juga teman-teman yang baik hati dan ringan tangan. Mungkin juga karena saya sudah terbiasa mengurusi detail sebuah acara. Tapi jangan sedih. Walau anda belum terbiasa membuat sebuah acara, tetep kok, bisa ngurus pesta pernikahan meski pasangan ada di seberang.

Cara paling mudah : Do Hire a professional Wedding Organizer

Tapi kalo memang budget terbatas, tetep jangan sedih! Kalian masih bisa kok mengaturnya.Sedikit tips dari saya :

1. Kendalikan emosi anda. Trust me! Ini rempong. Menjadi Bridezilla sangat-sangat nggak cool. Jadi galau, mellow, up and down emosi hanya menguras energi.

2. Manfaatkan semua teknologi untuk mendukung meeting via dunia maya. Skype, YM!, Video call untuk menentukan apa, bagaimana, detail yang anda gunakan dalam pesta pernikahan anda.

3. Libatkan keluarga atau teman yang memang dekat keberadaannya dengan anda. Nggak usah mellow dramatis karena nyari dekorator seorang diri tanpa dibantu pasangan. Ajak keluarga atau teman untuk menemani. Ini tidak berarti keputusan HANYA di tangan anda dan melalaikan pasangan. Anda mencari-cari berdasarkan obrolan bersama dari point ke 2.

4. Jadwalkan cuti. Walau ada teknologi keberadaan fisik tetap diperlukan. Jadwalkan cuti untuk mengurus surat-surat pernikahan, fitting baju, maupun membeli cincin kawin.

5. Bersama pasti bisa. Kalo mengurus begini saja rempong, penuh dengan air mata...pikirkan lagi ya cing, beneran kalian mau menikah? Kalo yakin bersama...insyallah semua kendala dapat dengan mudah diatasi tanpa perlu dramatisir.

Selamat mencoba kawan!